Judul Buku : Rindu
Pengarang : Darwis Tere Liye
Penerbit : Replubika
Tahun terbit : 2014
Tebal buku : 544 hlm.
Sinopsis
“Apalah arti memiliki, ketika dari kami sendiri bukanlah milik kami ?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan ?
Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah ? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun ?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan ? Dan terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu ? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”
Kenapa beli buku ini ?
Awalnya iseng-iseng pergi ke gramedia liat-liat buku. "liat-liat" doang yaaa.. Sejam mondar mandir gajelas, dan pada akhirnya menemukan buku ini dengan melihatnya dari kejauhan.
"Rindu" judulnya. aihh pas banget dah sama perasaan w hahaha. Pas liat sinopsisnya kaya bingung gitu apaan si gangerti *lolaemang. Eh di cover depan nya ada tulisan " BUKU ISLAM TERBAIK ISLAMIC BOOK FAIR AWARD 2015 "
Naahh penasaran kan tuh jadinyaa, sebagus apa si ceritanya sampe jadi buku terbaik.. Hatiku tergerak untuk membaca dan membelinya, yaa walaupun harganya lumayan dan halaman nya tebel banget bikin males bacanya..
Awalnya emang ngebosenin sih tentang cerita sejarah gitu, makin lama makin jauh bacanya ternyata seru uuu gaketebak jalan ceritanya ... yuhuu
Review
Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang sebuah kerinduan.Kerinduan itu membawa beban dalam hati Mulai dari bagaimana ia menghadapi perjalanan dengan kisah tentang masa lalunya yang penuh dengan dosa. Lalu seseorang yang melakukan perjalanan dengan kebencian kepada orang yang seharusnya disayangi. Ada pula yang kehilangan cintanya menjadi sebab ia melakukan perjalanan ini. dan novel ini juga menceritakan tentang kemunafikan dan cinta sejati.
Novel ini memakai latar waktu pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu, pemerintah memberi layanan perjalanan haji untuk rakyat Indonesia yang memiliki cukup uang. Perjalanan dilakukan melalui jalur laut dengan menggunakan kapal uap besar yang merupakan transportasi tercanggih pada masa itu. Hanya ada satu Kapal uap yang beroprasi untuk melakukan perjalanan haji yaitu Blitar Holland.
Dikapal inilah semua kisah dimulai.Menceritakan kehidupan di atas kapal uap yang besar. kehidupan mereka diatas kapal seperti kehidupan mereka menjalani hidupnya ditempat tinggal mereka Disana terjadi interaksi antara penumpang yang satu dengan yang lainnya, terdapat juga fasilitas-fasilitas umum seperti masjid, kantin, tukang jahit, ruang perawatan, dan halaman untuk bermain anak-anak.
Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.
Kisah ini tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu dibawa oleh penumpang dalam Kapal Holland Blitar ini.
Diceritakan ada seorang keturunan Cina. Ia sering mengajar ngaji anak-anak di mushola atas kapal. Anak-anak memanggilnya dengan sebutan Bonda Upe. Bundo Upe ini ternyata memendam kisah masa lalunya sebelum masuk Islam. Ia sering menangis setiap malam atas dosa-dosanya dulu.
Pada masa lalu perempuan yang biasa di panggil Bundo Upe ini bernama Ling Ling. Saat itu Ling Ling di seret oleh para penjahat ke sebuah kapal akibat ulah ayah nya yang kalah taruhan judi. Ternyata Ling Ling di bawa ke Batavia untuk di jadikan cabo di tempat Macao Po. Saat itu Ling Ling menjadi primadona di tempat itu. Sampai akhirnya ada seorang lelaki yang mengajaknya pergi dari tempat itu yaitu lelaki yang menjadi suami nya sekarang. Bundo Upe merasa telat sekali belajar agama dan takut akan perkataan orang jika tau masa lalunya yang kelam itu. " Aku seorang cabo selama 15 tahun, apakah Allah akan menerima ku di Tanah Suci ? " itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Bundo Upe
Disisi lain, mengenai keluarga Andipati Daeng yang terdiri dari istrinya, pembantu rumah tangga dan kedua anaknya yaitu Elsa dan Anna. Mereka menjalani perjalanan dengan penuh riang gembira.
Semua orang memandang Andipati Daeng adalah orang yang paling bahagia di dunia, memiliki istri yang cantik dan dua anak perempuan yang pintar dan menggemaskan. Namun sebenarnya hidupnya jauh dari kebahagiaan, karena Andipati memiliki kebencian dalam hatinya. Kebencian kepada seorang ayah. Ayah yang selalu mementingkan diri sendiri agar terlihat baik didepan orang lain, selalu berbuat kasar kepada ibunya dan tidak memperdulikan anak-anaknya. Sampai ayah nya meninggal pun kebencian itu masih ada dalam hatinya.
" Bagaimana aku menjalankan perjalanan suci ini dengan penuh kebencian ? Apakah tanah suci terbuka bagi seorang anak yang membenci ayah nya ? Bagaimana cara melupakan dan memaafkan kebencian itu ? " itulah pertanyaan yang ada dalam hatinya sejak naik kapal uap besar ini .
Ada pula tokoh yang bernama Ambo Uleng. Dia adalah seorang pelaut. Ia berhenti bekerja dari nahkoda kapal Phinisi dan ikut menaiki kapal Blitar Holland tidak dengan tujuan apapun. Dia menemui kapten Phillips untuk memintanya bekerja, sekalipun tidak dibayar. Karena Ambo hanya ingin pergi sejauh-jauhnya meninggalkan tanah Makassar yang ia jalani melalui kisah cintanya yang memilukan.
Ambo uleng jatuh cinta kepada seorang wanita, tetapi cinta itu membuat hatinya merasa tersakiti karena wanita yang dicintai Ambo sudah dijodohkan oleh ayahnya. Ambo tak tau harus melakukan apa dan akhinya memilih lari dari kisah cinta nya itu dengan harapan bisa melupakan semuanya. lantas Apa itu cinta sejati ? apakah Ambo masih ada kesempatan ?
Disini pula diceritakan Gurutta Ahmad Karaeng. Beliau adalah ulama tersohor di Makassar yang mengikuti perjalanan haji. Beliau rutin melakukan pengajian setelah sholat berjamaah bersama penumpang lainnya di atas kapal yang tentunya dizikan oleh Kapten Phillips. Beliau adalah sosok yang selalu memberikan jawaban atas pertanyaan orang-orang. Namun ternyata ia sendiri memendam pertanyaan dalam hidupnya yang tak mampu seorang pun menjawabnya.
Menceritakan juga tentang kisah cinta sejati dari seorang kakek dan nenek yang biasa disebut dalam cerita adalah mbah kakung dan mbah putri. Cerita kisahnya yang romantis sampai akhir hayatnya.
mbah kakung di tinggal oleh mbah putri karena meninggal dalam perjalanan. jasad mbah putri di tenggelamkan di laut. Padahal mbah kakung dan mbah putri sudah berjanji jika keduanya meninggal akan dikuburkan berdampingan.. mbah kakung merasa sedih dan merasa kehilangan sosok wanita yang dicintainya. Gurruta Ahmad Karaeng menasihatinya, mbah kakung harus bersabar dan mengikhlaskan semuanya, dan nasihat itu dipatuhi.. Saat perjalanan pulang dari Tanah Suci mbah kakung pun meninggal dalam perjalanan. Jasadnya ditenggelamkan persis di tempat mbah putri ditenggelamkan juga.
Diperlihatkan juga Watak tokoh Kapten Phillips yang selalu ramah dan peduli terhadap penumpangnya. Banyak juga kejadian yang jika dibayangkan menegangkan terjadi di atas kapal.
Di dalam novel ini juga diceritakan bagaimana keadaan beberapa kota besar di Indonesia yang menjadi tempat pelabuhan kapal Blitar Holland untuk menjemput jamaah haji dari daerah tersebut. Dan juga terdapat banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari konflik yang ada di dalamnya.
Kelebihan dari novel ini adalah alurnya yang menarik. Mengandung nilai-nilai islam, seperti ada kutipan Hadis didalamnya dan sedikit cerita sejarah tentang islam. Dan terdapat nuansa latar pada masa pemerintahan Hindia Belanda dengan menceritakan kehidupan diatas kapal ibarat kapal uap itu seperti kampung tempat mereka tinggal.
Kelemahan dari novel ini adalah terlalu banyak penjelasan sehingga terkesan bertele-tele dan awalnya membosankan.
YEEEEYYYY....
Udah segitu dulu yaaa
Udah segitu dulu yaaa
Wassalamualaikum Wr Wb.
Komentar
Posting Komentar